ITMG melakukan peningkatan modal anak usahanya PT Jorong Barutama Greston dengan kepemilikan 99,99% dengan nilai Rp124,9M

PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) melakukan peningkatan modal anak usahanya PT Jorong Barutama Greston dengan kepemilikan 99,99% dengan nilai Rp124,9M.

December 23, 2014

BRAU siapkan belanja modal tahun depan US$ 30 juta

PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) menyiapkan belanja modal sebesar US$ 30 juta untuk ekspansi tahun depan. Sejak tahun lalu, perseroan banyak menahan ekspansi lantaran harga komoditas batubara yang masih belum pulih.

Amir Sambodo, Direktur Utama BRAU mengatakan, alokasi belanja modal itu sekitar sama dengan alokasi tahun ini. Namun, pada kenyataannya, sampai akhir tahun 2014, belanja modal BRAU hanya terserap sekitar US$ 10 juta. “Karena banyak ekspansi yang ditahan dan baru akan dilakukan tahun depan,” ujarnya di Jakarta, Senin (22/12).

Belanja modal itu akan dialokasikan untuk pengembangan usaha seperti penambahan kapasitas fasilitas pengolahan batubara, loading conveyor, dan hauling road di Lati, Binungan, dan Sambarata.

Perseroan juga akan membangun terminal batubara di Suaran, dan menambah dua unit fasilitas tongkang pengangkut batubara. Harapannya tahun depan BRAU bisa lebih efisien.

“Belanja modal juga sebagian dari dana sisa IPO. Dan kami tidak ingin membakar dana kas terlalu banyak,” ujarnya. Tahun depan, perseroan berharap bisa meraih kuota produksi batubara sebesar 27 juta ton, naik dari tahun ini yang sebesar 24 juta ton.

December 23, 2014

PTBA mengincar proyek PLTU di Lampung dengan kapasitas 2×600 MW

PT Bukit Asam (PTBA) mengincar proyek PLTU di Lampung dengan kapasitas 2×600 MW. Untuk nilai proyek US$ 1,3 -1,4M.

December 23, 2014

INAF sudah mencairkan piutang senilai Rp122,7 miliar yang akan digunakan untuk pelunasan MTN perseroan yang segera jatuh tempo

PT Indofarma Tbk (INAF) sudah mencairkan piutang senilai Rp122,7 miliar yang akan digunakan untuk pelunasan MTN perseroan yang segera jatuh tempo. Pelunasan piutang itu diklaim telah menepis kekhawatiran pihak yang mengkhawatirkan likuiditas dan kemampuan bayar utang emiten BUMN itu.

December 23, 2014

AALI mencatat produksi CPO sampai November 2014 mencapai 1,61 juta ton atau meningkat 15,4% (yoy)

PT Astra Agro Lestari (AALI) mencatat produksi CPO sampai November 2014 mencapai 1,61 juta ton atau meningkat 15,4% (yoy). Selama Januari-November produksi TBS 5,12 juta ton atau naik 9,7 (yoy) sedangkan produksi kernel 343.468 ton atau meningkat 15,7 (yoy). Harga jual rata-rata CPO sampai November meningkat 17,3% menjadi Rp8.334/kg. Sedangkan volume penjualan kernel 324.244 ton, dengan harga penjualan naik 57,9% menjadi Rp5.197/kg.

December 23, 2014

Positive news as government to fix fuel subsidy at IDR500/liter

The special task force in oil and gas reform recommends Indonesian government to only subsidize IDR500/liter of gasoline (and float the domestic price to market price less the IDR500 subsidy) and keep the administered price for diesel (presumably with larger subsidy) which is largely used for public transport, logistics, and fishermen. This is very positive as it will mitigate the risk of fuel price volatility and put a much better certainty to government budget subsidies in the future and reduce risk of social discontent when fuel price go up.

Tags: ,
December 23, 2014

IHSG mengalami koreksi tipis, -0.4% kemarin

IHSG mengalami koreksi tipis, -0.4% kemarin. Terkoreksinya IHSG ditopang oleh melemahnya beberapa saham big caps, seperti BBCA, ASII, UNVR, ditengah sepinya sentimen menjelang libur akhir tahun. Nilai perdagangan juga nampak relatif sepi, mencapai IDR3.4t, atau dibawah rata-rata perdagangan 6 bulan terakhirnya. Dari aktvitas asing juga masih mengalami net selling sebesar IDR358miliar. Atau selama sepekan kemarin, asing masih melakukan net selling sebesar IDR4.4.3t.Mata uang Rupiah juga bergerak stabil, di level IDR12,400-an, dan dittutup di level IDR12,441/USD.

Dari bursa regional pagi ini mixed (kecuali bursa Jepang hari ini libur (Emperor’s Birthday), ditengah bursa Wall Street yang masih ditutup positif rata-rata +0.37% semalam. Menguatnya bursa Wall Street dipicu oleh penguatan saham-saham sektor IT, seperti Intel Corp, Facebook Inc. Bursa Wall Street ditutup positif, meski kemarin diumumkan data existing home sales yang melemah -6% MoM menjaid 4.93juta unit, atau lebih rendah dari perkiraan consensus, melemah -1,1% MoM menjadi 5.2juta unit. Pelaku pasar lebih fokus terhadap beberapa data makro ekonomi US yang akan diumumkan di pekan ini, seperti : 1) Data GDP Anuallized di 3Q ( akan diumumkan tanggal 23 Desember), diperkirakan consensus economist tumbuh 4.3%. 2) Data Personal Consumption di 3Q (23 Desember), diperkirakan consensus tumbuh 2.5%. 3) Data Consumer Confidence index (Univ. Of Michigan Confidence) bulan Desember, (23 Desember), diperkirakan consensus flat di level 93.5. 4) Data New Home sales bulan Nov (tanggal 23 Des), diperkirakan consensus tumbuh 0.4% MoM menjadi 560k unit. 5) Data Personal Income dan Personal Spending bulan Nov (tanggal 23 Des), diperkirakan tumbuh masing-masing 0.5%.

Minyak mentah WTI masih berfluktuasi, dan kembali mengalami koreksi, ditutup melemah -2.2% menjadi USD55.26 per barrel kemarin. Pagi ini minyak mentah ditutup minyak mentah dibuka stabil di level USD55.43 per barrel. Terkoreksinya minyak mentah masih dipicu kekhawatiran OPEC yang masih menolak untuk menurunkan produksinya, ditengah melimpahnya pasokan minyak secara global.

December 23, 2014

INDF: Indonesian food leader forms poultry venture with Brazil’s BRF

Indofood Sukses Makmur (INDF), Indonesia’s top food company, has agreed to form a joint venture with Brazil’s BRF, the world’s largest poultry exporter. The endeavor will focus on poultry and processed food.

The 50-50 venture will invest $200 million over the next three years, BRF said Friday in a news release.

The move marks BRF’s entry into Indonesia. The Brazilian company, which exports meat and frozen food to 110 countries, aims to tap the Southeast Asian nation’s rapid consumption growth via Indofood’s archipelago-spanning distribution network. BRF’s export business generated 44% of its 2013 revenue, which came to 30.5 billion real ($11.5 billion).

Through the joint venture, Indofood, led by tycoon Anthoni Salim of the Salim Group conglomerate, is entering the poultry business. Indofood’s core business is instant noodles, which dominates the domestic market. But the top player in the poultry and processed chicken market is Charoen Pokphand Indonesia, the local unit of Thailand conglomerate Charoen Pokphand Group. Indofood aims to grab market share from CP by bringing in technology and know how from Brazil, one of the world’s largest exporters of chicken.

Indofood has been expanding its food and beverage portfolio in recent years. It launched a takeover of Singapore-listed processed vegetable producer China Minzhong Food last year and established a beverage joint venture with Japan’s Asahi Group Holdings in 2012.

Tags: ,
December 23, 2014

Markets Add to Last Week’s Gains

U.S. equities were able tack onto last week’s gains, with the Dow getting a nice boost from the tech sector, tempering a drag by energy shares that initially gave the markets a lift. The early advance in the sector faltered amid a drop in WTI crude prices, while health-care issues added to the pressure amid a sharp drop in shares of Gilead Sciences after Express Scripts Holding Co. chose a hepatitis C treatment from rival AbbVie, citing the high cost of the former’s pill. Volume was lighter than normal as a result of the holiday-shortened week where all U.S markets will close early on Wednesday and remain shut Thursday in observance of the Christmas holiday. Treasuries finished nearly flat, as the lone report on the domestic docket showed existing home sales for November declined more than expectations. In other news on the equity front, Walgreen Co. said it will switch stock exchanges following the completion of its acquisition of Swiss-based Alliance Boots, while shares of Cubist Pharmaceuticals gained ground after the drugmaker, which is being acquired by Dow member Merck & Co., announced FDA approval for its Zerbaxa antibiotic as a treatment for urinary-tract and abdominal infections. Finally, gold and crude oil prices were lower, while the U.S. dollar was modestly higher.

AMRT: Defensive With Robust Growth

We initiate coverage on Alfamart with BUY and IDR660 TP (35% upside). We anticipate this Indonesian modern retailer may grow exponentially, driven by the growing middle-income group. Alfamart has been able to maintain robust SSSG consistently. It is among the few groceries that booked 9M14 EBIT growth, which indicates that its operating perfomance is stable and defensive despite cost increases.
¨ Fast-growing modern grocery. Although traditional channels still dominate the Indonesian grocery market, we believe this is set to change over the next decade. Over time, a shift to modern markets should increase grocery retailers’ pricing power. This should also bring about higher volumes, economies of scale, better operational processes and infrastructure investments, among others, which could drive structural margin improvements and operating cash flow.
¨ A defensive retailer with strong growth. Given its strong position, Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) has been able to maintain robust same-stores sales growth (SSSG) even during high inflation in 2005, 2008 and 2013. While consumer spending this year may have weakened due to accelerated inflation caused by the subsidised fuel price hike, we expect a faster recovery, as consumers have been anticipating it before the fuel price hike.
¨ Outpacing its peers. Alfamart booked 9M14 revenue of IDR31trn, threefold of that of its closest listed Indonesian grocers. This shows its huge business operation scale and financial dominance over its peers. Alfamart is among the few grocers that booked 9M14 EBIT growth, which indicates that its operating perfomance is stable and defensive despite cost increases.
¨ Risks. Key risks include: (i) accelerated inflation triggered by subsidised fuel price hikes; (ii) expansion delay, (iii) regulatory and supply chain risks, and (iv) low share trading liquidity risks.
¨ BUY, with 35% price upside. Our DCF-derived TP of IDR660 per share implies 36.8x/29.2x FY15/FY16F P/Es. In our view, DCF valuation is the most appropriate approach as it captures Alfamart’s high growth potential. Furthermore, the company is involved in a grocery business that provides stable recurring income with high earnings visibility.

December 23, 2014

BJTM: Oktober 2014, Bank Jatim telah naik kelas BUKU III

Bank Jatim akhirnya naik kelas ke BUKU III (kelompok bank dengan modal inti antara Rp 5 triliun – Rp 30 triliun) di bulan Oktober 2014. Namun Bank Pembangunan Daerah (BPD) tersebut belum ada rencana untuk mendapatkan suntikan modal lagi dari para pemegang saham.

Menurut Ferdian Satyagraha, Manajer Hubungan Investor Bank Jatim, tahun depan tambahan suntikan modal disebtor melalui mekanisme right issue belum pasti akan dilakukan. “Kami saat ini berupaya meningkatkan modal inti melalui pembentukan cadangan umum dari laba bersih di akhir 2014,” kata Ferdian saat dihubungi KONTAN, Senin (22/12).

Sebelumnya, Bank Jatim masih di kelompok BUKU II (kelompok bank dengan modal inti antara Rp 1 triliun – Rp 5 triliun). Walau telah naik kelas, Bank Jatim tetap berupaya meningkatkan modal inti secara reguler dari pertumbuhan bisnis. “Selain cadangan umum 2014, kami juga berupaya meningkatkan modal inti dari laba tahun berjalan yang terbentuk pada tahun depan,” pungkas Ferdian.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per Oktober 2014, modal inti Bank Jatim mencapai Rp 5,01 triliun. Jumlah tersebut menunjukkan pertumbuhan 7,28% secara year on year (yoy) dibanding modal inti pada Oktober 2013 yang mencapai Rp 4,67 triliun.

Saat ini saham Bank Jatim dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebesar 51,46% selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP). Selanjutnya Pemerintah Kabupaten/Kota seluruh Jawa Timur memiliki 28,54% saham. Sisanya sebesar 20,00% dimiliki oleh masyarakat.

December 23, 2014

Tim IMF Apresiasi Pengelolaan Makroekonomi Indonesia

Tim International Monetary Fund (IMF) dalam laman IMF mengapresiasi pengelolaan makroekonomi Indonesia hasil dari kunjungan ke beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Solo dan Yogyakarta selama 3-17 Desember 2014.

Tim IMF yang dipimpin David Cowen tersebut melakukan diskusi 2014 Article IV Consultation dengan Pemerintah dan Bank Indonesia. Diskusi itu bertujuan untuk menilai perkembangan terkini di Indonesia baik jangka pendek, menengah maupun outlook ke depan.

Selain itu Tim IMF juga mengadakan pertemuan dengan sektor swasta, masyarakat sipil dan juga akademisi. Hasil kunjungan dan diskusi tersebut akan disampaikan kepada Dewan Eksekutif IMF pada Februari tahun 2015.

“Pengelolaan makroekonomi yang baik telah meningkatkan kredibilitas kebijakan dan ketahanan eksternal di Indonesia. Selama 18 bulan terakhir, kebijakan dan bantalan cadangan devisa telah diperkuat secara nyata. Kerangka kebijakan saat ini berfokus pada upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan, sambil mendorong reformasi struktural untuk meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi dan memberikan lebih banyak kesempatan kerja bagi tenaga muda Indonesia. Reformasi untuk memperluas ruang fiskal, memperdalam pasar keuangan, dan menutup kesenjangan infrastruktur serta keterampilan dapat mendorong pertumbuhan sebesar 6 persen atau lebih dalam jangka menengah,” demikian disampaikan David Cowen dalam siaran pers seperti dikutip dilaman BI, Senin.

December 23, 2014

MANUFAKTUR: 2015, Menperin Pasang Target Pertumbuhan Manufaktur 6,1 Persen

Kementerian Perindustrian optimistis industri manufaktur akan kembali berjaya pada tahun depan setelah mengelami perlambatan pertumbuhan pada tahun ini. Menteri Perindustrian Saleh Husin menargetkan pertumbuhan industri nonmigas tembus 6,1 persen pada 2015, dengan nilai nominal output mencapai Rp 1.329,85 triliun.

” 2015 kami sangat yakin akan lebih baik dari 2014,” ujar Saleh Husin di kantornya, Senin (22/12).

Sub sektor industri nonmigas yang diprediksi akan tumbuh tinggi pada 2015 adalah industri alat angkutan, mesin dan peralatan sekitar 7,1-7,6 persen. Tertinggi kedua diperkirakan industri makanan, minuman dan tembakau sekitar 6-6,5 persen.

Meskipun sektor manufaktur melambat pada tahun ini, Saleh Husin optimistis hasil dari investasi di sektor ini akan terlihat hasilnya pada tahun depan. Seiring dengan pertumbuhan kinerja, kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB) diharapkan meningkat dari 20,65 persen pada 204 menjadi 21,2 persen.

Secara nominal, kata Saleh Husin, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB pada tahun ini diharapkan mencapai Rp 1.253,39 triliun. Angka tersebut diharapkan meningkat menjadi Rp 1.329,85 triliun pada 2015.

Investasi Tumbuh

Peranan industri pengolahan yang meningkat, lanjut Menperin, berkat investasi yang menggeliat di sektor padat karya tersebut. Nilai investasi di industri manufaktur pada 2015 diperkirakan mencapai Rp 270 triliun, tumbuh 28,5 persen dibandingkan perolehan tahun ini yang diyakini mencapai Rp 210 triliun.

“Industri ini akan kami dorong untuk mendapatkan insentif agar yang berorientasi ekspor ini bisa terus eksis” ujarnya.

December 23, 2014

ADHI/WSKT/ANTM: Tiga BUMN siapkan “right issue” Rp12 triliun

Pemerintah menyiapkan dana Rp12 triliun untuk menyerap rencana penerbitan saham baru tiga BUMN yaitu PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk melalui “right issue” pada 2015.

“Rencana right issue tiga BUMN itu sudah diajukan kepada Komite Privatisasi dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,” kata Sekretaris Kementerian BUMN, Imam A Putro, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin.

Menurut Imam, dana untuk penyerapan right issue tersebut dialokasikan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015.

Adapun langkah melakukan right issue itu dimaksudkan agar ketiga BUMN tersebut dapat mendukung program pemerintah dalam sektor infrastruktur dan pembangunan pabrik pemurnian konsentrat atau smelter.

Ia menjelaskan, setelah mendapat diputuskan di Komite Privatisasi maka usulan tersebut disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat pada Januari 2015.

“Rencana right issue tersebut sudah melalui serangkaian kajian mendalam. Yang jelas kementerian BUMN dan negara serta DPR tetap berkomitmen pegang mayoritas, minimum 51 persen,” ujarnya.

Pemerintah nantinya akan menyerap hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dari penerbitan right issue ketiga BUMN tersebut.

Dengan begitu ketiga BUMN berkode saham masing-masing ANTM, WSKT, dan ADHI tersebut dapat membuat perseroan dapat meningkatkan kemampuan pendanaan untuk membiayai ekspansi dengan dana segar yang diperoleh dari right issue.

Imam menjelaskan, bagi investor publik diperkirkaan dapat menyerap saham baru yang diterbitkan perseroan maksimum 2/3 dari total saham baru yang diterbitkan, sedangkan pemerintah akan menyerap sekitar 1/3 dari total dana right issue.

Penghitungan prosentase right issue masih dilakukan oleh perusahaan sekuritas pelat merah, yakni PT Mandiri Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Bahana Securities. Namun, pemerintah belum menunjuk ketiganya sebagai penjamin pelaksana emisi right issue.

Tags: , ,
December 23, 2014

SSMS: Sawit Sumber Mas akuisisi dua perusahaan

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk akan mengakuisisi dua perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah sebagai upaya perusahaan untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan produksi, operasional serta finansial perseroan.

“Rencana akuisisi dua perkebunan kelapa sawit tersebut menjadi bukti bahwa emiten perkebuna ini sangat komit meningkatkan kapasitas lahannya sambil tetap menjaga produktivitas,” kata Direktur Utama PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) Rimbun Situmorang kepada pers saat paparan publik perseroan 2014 di Jakarta, Senin.

Dua perkebunan sawit yang diakuisisi adalah PT Tanjung Sawit Abadi (TSA) dan PT Sawit Multi Utama (SMU) dari PT Citra Borneo Indah.

Dikatakan akuisisi dilakukan menjadi salah satu solusi untuk memenuhi tingginya permintaan produk minyak kelapa sawit mentah (CPO) di masa mendatang, sekalipun harus menghadapi tantangan yang tak ringan.

“Rencananya akhir tahun ini akan diselenggarakan rapat umum pemegang saham untuk mendapatkan persetujuan pemegang saham atas aksi korporasi tersebut. Sebab akuisisi ini merupakan transaksi material dan terafiliasi,” kata Rimbun.

Menurutnya, hingga September 2014 kinerja perusahaan membaik dan diperkirakan laba bersih selama 2014 mencapai Rp735 miliar, naik 16,2 persen dibanding perolehan laba 2013.

Namun perusahaan menghadapi tantangan harga CPO yang fluktuatif dan cenderung melemah selama 2014. Harga CPO pada kuartal kedua tahun 2014 alami penyesuaian karena koreksi musim panas El Nino.

“Bahkan harga CPO kuartal ketiga tahun 2014 masih tertekan karena pasokan minyak nabati dunia meningkat setelah panen yang baik di Amerika,” katanya.

December 23, 2014

MPPA: Store visit: Hypermart G7 concept flagship outlet

§ Improved format – both cost-efficient and convenient: On the back of intensifying competition in the retail industry, particularly in the hypermarket format, MPPA has managed to come up with an improved store concept by devising a Generation 7 (G7) concept that should be both cost-efficient for the company and convenient for its customers. MPPA opened this flagship G7 store on 19 December in Cyberpark, at north Lippo Karawaci (exhibits 5-6).

§ LED lights with eco-friendly coolers and RTE area with bakery: The G7 concept emphasizes two retail competitive advantages – cost efficiency and convenience. To control costs, G7 uses LED lights and eco-friendly coolers for fresh products. On the convenience side, the new concept offers shoppers a Ready-To-Eat (RTE) area and a bakery (exhibit 8). Additionally, we see convenient product displays by category, such as beauty and health, home electronics, cooking, breakfast and home living, with related products located close to the various displays in the store. Products are displayed at eye level and are placed in rows according to brands (exhibits 9-12).

§ Competitive pricing; Additional check-out lane requests: G7 places traditional items such as bulk products in a modern environment at competitive prices and allows customers to request for additional check-out lanes be opened if more than 5 persons are waiting in a given line of queue (exhibits 13-14). Additionally, fresh products such as fruits are stacked in only two layers to help maintain freshness.

Outlook: Rapid store expansion outside Java
In the next few years, MPPA plans to resume its annual plan to open 15-20 stores, of which more than 60% would be located outside of Java due to limited expansion potential within Jakarta. These ex Java expansions should be supportive of margins in our view due to less intense competition in outlying areas. MPPA also plans to gradually transform around 7-10 G6 stores into the G7 format annually. Within Indonesia, MPPA the company has an aggressive plan to open a store for every 150,000-200,000 population base. While we see risk from lower commodity prices in the short-to-medium term to affect outer islands’ purchasing power, we still expect this expansion plan would still allow MPPA to register 20% y-y revenue growth, helped by its first-mover advantage. On costs, we expect higher utilities, particularly electricity, to be partly offset by the energy-efficient G7 stores.

Recommendation: Reaffirm BUY and TP of IDR3,900
We continue to like MPPA’s management due to its proactive stance and creativity. Testimony to this would be the new G7 concept, which we believe is unique and more attractive than the traditional formats of MPPAs competitors. Thus, we reaffirm our BUY rating on MPPA and our 12-month TP of IDR3,900, reflecting 24% upside potential. Our TP is based on a 2015F P/sales of 1.2x. The key risk to our call is a greater-than-expected economic downturn, lower-than-expected store expansion and SSSG.

December 23, 2014

Ciptadana Daily Technical View 23 December 2014

We expect JCI to trade between 5,100 (support) – 5,165 (resistance) level today

BBRI : Buy at Rp 11,600-Rp 11,525
Comment: The trend is still positive

BMRI : Buy at Rp 10,625-Rp 10,525
Comment: The trend is still positive

PGAS : Buy at Rp 5,850-Rp 5,800
Comment: Held above key support level

KLBF : Sell on strength at Rp 1,860-Rp 1,880
Comment: Testing resistance level
Market Movement
US equity market closed higher on yesterday’s trading with Dow Jones advanced 0.87% to 17,959 and S&P increased slightly 0.38% to 2,078. Move in trading was lead by technology shares, with Twitter and Amazon climbed at least 2.2%. Meanwhile, energy companies in S&P fell 1% as crude oil Brent dropped 2.07% to US$60.1/barrel in yesterday’s trading. Oil price continues their downward given OPEC’s decision to not cut production at any price. Nickel increased 0.3% to US$15,579/ton.
JCI closed at 5,126 or down 0.4% yesterday with UNVR, ASII and BBCA consecutively became lagging movers on yesterday’s trading. Trading value was at Rp3.4 tn and foreign investors were net sellers of Rp357.78 bn of shares. Ministry of industry projects manufacturing growth of 5.6-6.1% in 2015 with transportation, machines and equipment, food and beverages, tobacco, and other forest products to be leading mover. Next year, transportation industry is expected to grow 7.1-7.6%; food, beverage and tobacco by 6-6.5% and forest products by 5.7-6.1%. Meanwhile non oil industry is estimated to grow by 6.1%, lower than initial target of 6.8%. Some headline news today are: deposit rate to stabilize in 2015 (according to LPS), Rothschild offers to underwrite US$100 mn right issue, Cabinet meeting to discuss energy and fuel issues. From our technical desk, it is probable that JCI will close at positive territory with technical range of 5,100-5,165.

Tags: , , ,
December 23, 2014


(By: D’ORIGIN – Gita Adiwoso)

IHSG(22/12) ditutup turun 0.37% (-18.84pts) ke level 5125.77dengan total value sebesar Rp. 5.697 Tn, yang kembali didominasi oleh aksi tutup sendiri senilai Rp. 2.28 Tn investor asing membukukan net sell Rp60.12 M dipasar reguler. Indeks LQ45 terdepresiasi 0.33% menjadi 883.13.

Prediksi pergerakan indeks hari ini:
IHSG range : 5095 – 5153
Support : 5112 ; 5095
Resist : 5140 ; 5153
Black opening candle, volume lebih kecil dari hari sebelumnya, MACD dan Stocsahtic mengindikasi penguatan, IHSG dibuka gap up, namun terjadi aksi profit taking, sehingga ditutup melemah dan dibawah MA20. 
Pelemahan ini berpotensi menutup gap 5127 – 5113

ACES closed 775 (+15 pts ; +2%)
Support : 765 ; 755
Resist : 785 ; 800
White closing marubzou, volume lebih kecil dari hari sebelumnya, OBV dan CMF menunjukkan dorongan beli, 
MACD berhasil golden cross, Stochastic indikasi menguat. ACES naik signifikan dan berhasil tutup diatas MA5. Penguatan ini berptoensi menguji resist 785, penembusan level ini berpeluang menuju 800. ¤Spec.Buy

KLBF closed 1825 (+25 pts ; +1.4%)
Support : 1810 ; 1800
Resist : 1830 ; 1840
White opening marubozu, volume lebih kecil dari hari sebelumnya, OBV dan CMF menunjukan dorognan beli, 
MACD berhasil golden cross, Stochastic indikasi menguat. KLBF menguat cukup signifikan dan berada 
pada higher bollinger band. Penguatan ini berpotensi menguji resist 1840. ¤SOS

INDF closed 6550 (0 ; 0%)
Support : 6500 ; 6450
Resist : 6600 ; 6650
White candle, volume lebih kecil dari hari sebelumnya, OBV dan CMF menunjukan dorognan beli, MACD 
berpotensi golden cross, Stochasttic indikasi menguat. Penguatan INDF tertahan oleh MA20, penembusan level ini membuka peluang menuju 6650. ¤Spec.Buy

(discl. on)

Tags: , , ,
December 23, 2014

U.S. stocks rose on Monday, with technology leading the Dow and S&P 500 to record finishes

Good morning,

U.S. stocks rose on Monday, with technology leading the Dow and S&P 500 to record finishes.

Dow………17959 +154.6 +0.87% 
Nasdaq……4781 +16 +0.34% 
S&P 500…..2079 +7.9 +0.38%

FTSE……….6577 +31.5 +0.48% 
DAX………..9866 +78.8 +0.81% 
CAC………..4254 +12.8 +0.30%

Nikkei……17635 +13.7 +0.08%
HSI……….23409 +291.9 +1.26% 
Shanghai…3129 +20.1 +0.65% 
ST Times…3331 +51.4 +1.57%  

Indo10Yr.. 8.1308 -0.065 -0.79%
INDOBex174.0681+0.5546 +0.32%
US10Yr….2.16% -0.01 -0.64%

VIX………15.25 -1.24 -7.52%

USD Index….89.74 +0.14 +0.16%
Como Index 236.61 -3.68 -1.53%
(Core Commodity CRB )
DJUSCL……96.31 -2.31 -2.34%
(Dow Jones US Coal Index) 
IndoCDS….159.02 +9.01 +6.01% 
(5-yr INOCD5) 

IDR………12441 -56 -0.45%
Jisdor……12435 -65 -0.52%
Euro……..1.2226 -0.0003 -0.02%

TLKM…….45.15 +0.58 +1.30%
(Rp 2807)
ARMS Plc….5.20 +0.71 +15.81%!! 
JAPFA LTD..0.55 +0.04 +7.84%!!
EIDO……..26.87 -0.02 -0.07%
EEM………39.38 +0.54 +1.39% 

Oil………..55.35 -1.78 -3.12%!! 
Gold ……1172.43-23.31 -1.95%!! 
Timah… menyusul
Nickel… menyusul
Coal……….61.80 -0.35 -0.56%
(weekly / 16 Des – 23 Des)
CPO………..2167 +18 +0.84%
Corn……..411.75 +1.25 +0.30% 
SoybeanOil.32.17+0.01 +0.03% 
Wheat……625.75 -6.50 -1.03% 

(DE/ls- 23-12-14)

Tags: ,
December 23, 2014

Panin Sekuritas Research 23 Des 2014.

Bursa AS kembali meningkat. Dow +0,87%; S&P +0,38%; Nasdaq +0,34%. Sentimen positif datang dari perbaikan ekonomi AS dan niat The Fed bersabar menaikkan Fed rate. Minyak NYMEX turun 3,3% menjadi $55,26/barel.
IHSG hari ini akan bergerak konsolidasi. Kapitalisasi pasar mungkin mengecil seiring musim liburan dimulai. EIDO -0,07%. Bappenas menuturkan pagu subsidi bahan bakar minyak dalam APBN-P 2015 diproyeksi menyusut menjadi sekitar Rp70 triliun dari sebelumnya Rp276 triliun. Kementerian Perindustrian memproyeksikan sektor manufaktur mampu tumbuh 6% pada 2015.
Panin Sekuritas

December 23, 2014

Domestic Markets Follow Global Bourses Higher

The U.S. domestic markets are higher on the first day of a holiday-shortened week where all U.S markets will close early on Wednesday and remain so throughout Thursday in observance of the Christmas holiday, taking their cue from overseas markets amid a rebound in energy and commodity-related shares. Treasuries are trading modestly lower following a read on existing home sales that came in softer than expected, the lone report on today’s domestic economic calendar before a flood of data tomorrow. On the equity front, Walgreen Co. said it will switch stock exchanges once its acquisition of Swiss-based Alliance Boots is complete, while shares of Cubist Pharmaceuticals are gaining ground after the drugmaker, which is being acquired by Dow member Merck & Co., announced FDA approval for its Zerbaxa antibiotic as a treatment for urinary-tract and abdominal infections. Elsewhere, gold is slightly lower and the U.S. dollar is flat, while crude oil prices are mixed. Overseas, Asian stocks registered a broad-based advance courtesy of the bounce in crude oil prices that benefitted the energy sector, while European equities are looking to achieve a fifth-straight day of gains amid the boost in energy shares, as well as lingering confidence of global central bank cooperation to advance economic growth following last week’s central bank decisions.

External Debt Update: Receding External Risk. Total external debt eased in Oct14

Total utang luar negeri turun menjadi 10,7% YoY dari 11,2% YoY pada bulan sebelumnya. Nilai nominalnya setara dengan 34,6% dari GDP berdasarkan kalkulasi kami, tidak berubah dibandingkan dengan posisi September.

Pemicu perlambatan kenaikan utang luar negeri adalah dari utang pemerintah (5,9% YoY pada Oktober vs. 7,9% YoY pada September) di mana utang luar negeri swasta membukukan angka sebaliknya (15,1% YoY vs. 14,1% YoY). Untuk utang luar negeri swasta, pertumbuhan telah terjadi sejak 2 bulan terakhir.

Berbalik naiknya (rebound) utang luar negeri swasta tidak menunjukkan sinyal adanya titik balik dari pertumbuhan ekonomi saat ini. Utang luar negeri swasta naik karena kenaikan musiman pada sektor finansial. Sebanyak 80% dari tambahan utang luar negeri swasta pada Oktober didorong oleh sektor keuangan saja (kelihatannya karena kebutuhan refinancing memasuki periode akhir tahun).

Pada saat bersamaan, sejalan dengan ekonomi yang melambat, utang dari sektor manufaktur dan perumahan melambat. Utang sektor tambang melanjutkan kontraksi ketika harga komoditas sedang turun. Karena itu, kami meyakini rebound utang luar negeri swasta tidak menunjukkan adanya akselerasi ekonomi saat ini.

Dari sisi positif, utang luar negeri yang melambat diikuti oleh kondisi perdagangan yang membuat rasio utang jasa (debt service ratio/DSR) turun. DSR – rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan sebuah negara untuk melunasi utang luar negerinya dari pendapatan ekspor – menyempit ke 43,4% pada kuartal III/2014 dari 47,9% pada kuartal II/2014. Posisi itu juga lebih rendah daripada kondisi sepanjang 2013 sebesar 50,5%.

Heading to the right path. Pertumbuhan ekonomi sudah melambat, tetapi kebijakan pengetatan BI dan langkah makro prudensial agak (somewhat) menurunkan risiko eksternal. Beberapa indikator mendukung kesimpulan berikut antara lain adalah:

i.) rasio utang luar negeri terhadap GDP masih stabil sekitar 30% dari GDP

ii.) DSR turun menjadi 43,4%

iii.) rasio utang jangka pendek terhadap cadangan devisa valas turun menjadi 51,6% pada kuartal III/2014 dari 56,6% pada kuartal IV/2013

iii.) kapasitas cadangan devisa untuk menutup impor dan melunasi utang luar negeri pemerintah naik menjadi 6,4 bulan pada November dari 5,5 bulan pada Desember. Lebih jauh lagi, implementasi dari Peraturan BI No.16/20/PBI/2014 akan memitigasi risiko utang luar negeri lebih jauh ke depannya (dapat dilihat pada riset Macroscope berjudul “Hedging rule: managing, not squeezing”, pada 31 Oktober).

Fundamental continues to improve, positive for the rupiah. Karena itu, rupiah seharusnya menguat dari sisi fundamentalnya. Kami menilai volatilitas nilai tukar rupiah beberapa hari terakhir lebih disebabkan oleh kebisingan pasar global dan penjualan obligasi.

Kombinasi dari sikap positif pasar pada hasil pertemuan the Fed, komitmen BI di pasar valas dan obligasi, serta fundamental Indonesia yang menguat diprediksi dapat memberikan getaran positif kepada rupiah. Kami meyakini rupiah akan menguat lagi menjadi Rp12.500 per dolar AS pada akhir tahun ini. (Leo Rinaldy, Riset Mandiri Sekuritas)

* Fixed Subsidy to be implemented starting Jan15. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan pemerintah akan menerapkan skema subsidi tetap (fixed subsidy scheme) mulai Januari 2015, karena pemerintah ingin membatasi defisit perdagangan dan menurunkan kerentanan jika terjadi penjualan besar-besaran (sell-off) di negara berkembang.

Batas subsidi (subsidy cap) adalah opsi lain yang juga sudah dikaji pemerintah, termasuk opsi untuk menghilangkan subsidi sama sekali.

Our comment: Turunnya minyak mentah ke bawah US$50 per barel membuat pemerintah selangkah lebih maju dalam mereformasi subsidi, tanpa mengalami pergolakan sosial-politik berarti.

Penghitungan kami pada posisi harga minyak US$70 per barel, harga ekonomis bensin biasa bisa sekitar Rp7.500 per liter. Jika subsidi diberikan Rp1.000 per liter, harga BBM bersubsidi bisa turun lagi menjadi Rp6.500 per liter dari posisi saat ini Rp8.500 per liter (turun 23,5%). Lebih jauh, batas subsidi terhadap anggaran juga akan turun menjadi sekitar Rp50 triliun (vs. Rp276 triliun pada APBN 2015), dengan asumsi konsumsi BBM sebesar 50 juta kl tahun depan.

Implementasi subsidi akan membuat APBN lebih tidak sensitif terhadap volatilitas harga minyak global dan nilai tukar. Hingaa saat ini, kami memprediksi faktor subsidi tetap itu akan positif untuk penilaian pemeringkatan Indonesia.

Tags: , , ,
December 22, 2014

PALM menyuntikkan modal kepada 10 anak usahanya

PT Provident Agro Tbk (PALM) menyuntikkan modal kepada 10 anak usahanya. Rencana PALM tersebut positif dalam rangka memperkuat permodalan anak usaha. PALM memberikan tambahan modal ke sepuluh anak usahanya senilai total Rp716,8 miliar

December 22, 2014

ELSA menganggarkan Rp600 miliar untuk belanja modal (capex) 2015

PT Elnusa Tbk (ELSA) menganggarkan Rp600 miliar untuk belanja modal (capex) 2015. Dana tersebut akan dialokasikan untuk kegiatan drilling and oil services, sisanya sebesar 30% untuk kegiatan seismik dan 10% untuk modal kerja anak usaha. Sumber capex sebagian besar berasal dari fasilitas kredit.

December 22, 2014

Takeaways from Hypermart’s G7 concept store opening

We attended new Hypermart store with G7 concept owned by Matahari Putra Prima (MPPA) in Karawaci last Friday and here are the key takeaways:

¨ The new store located on Karawaci, Tangerang with a gross area of 8,971 sqm in prime area near to university, residential areas and toll entry. The new concept will feature updated fixtures, wider aisles, ease for customer navigation, expanded fresh area and new exterior signage. The bakery, RTE (Ready to Eat) food, fresh food, bulk food, home & living sections feature larger assortments and new concepts. The newest concept has embraced a lifestyle center concept, which is complimented with a variety of supporting tenants such as Matahari Department Store (LPPF IJ, Under Review), restaurants, cafes, bank, and others.
¨ Using a new technology, Hypermart gives better costumer experience with preventing a long queue. If the queue is more than five customers waiting, the customer after the fifth of queue could press the button provided and the new register lane will be open afterward. In this event, the firm also launched a new app called “PowaTag” in order to giving better efficiency and shopping experience. PowaTag allows people to shop from their Smartphone and collect their purchase in register.
¨ The new G7 concept brings lower operating cost due to new low watt chiller and eco-friendly LED lamp. In addition, Hypermart plans to cut the number of workers per store from 160 workers to 110 workers. In the long run we believe MPPA will produce higher operating margin. However, this new concept needs higher capex than previous concept.
¨ The company have opened nine new Hypermart stores this year from initially 10 stores target. One store left will be added to 2015 target. Subsequently, they will open 21 new stores instead of having 20 new stores next year. Additionally, the company will renovate 10 existing Hypermart stores per year to adopt elements of the G7 concept. All of new store openings in 2015 are confirmed to adopt the G7 concept.

December 22, 2014

Presiden Jokowi pada 2015 memprioritaskan pembangunan infrastruktur besar

Presiden Jokowi pada 2015 memprioritaskan pembangunan infrastruktur besar yakni: pertama; jalan tol Trans Sumatera dan kereta Trans Sumatera, kedua; kereta api trans dan jalan tol Kalimantan. Ketiga; pembangunan jaringan kereta di Sulawesi dan Papua. Kemudian pembangunan infrastruktur pipa dan proyek pembangunan 13 waduk di berbagai daerah.

December 22, 2014

GWSA menganggarkan capex 2015 senilai Rp1 triliun

PT Greenwood Sejahtera Tbk (GWSA) menganggarkan capex 2015 senilai Rp1 triliun. Perusahaan akan menggunakan dana tersebut untuk pembangunan Capital Square. Selain itu, perusahaan juga akan menggunakan dana tersebut untuk melanjutkan pembangunan proyek The City Center (TCC) Batavia Office Tower 2.

December 22, 2014

INDF: INDF merambah bisnis makanan protein hewani  

Kelompok Usaha Keluarga Salim kian ekspansif melebarkan sayap usahanya. Grup Salim, melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), bakal merambah bisnis pengolahan makanan berbasis protein hewani.
Sebagai langkah awal, INDF menggandeng perusahaan asal Santa Clarina, Brasil, yakni BRF S.A. (BRF) untuk membentuk unit patungan alias joint venture. Kedua belah pihak telah menandatangani nota kesepahaman alias Memorandum of Understanding (MoU) pembentukan perusahaan patungan tersebut.
Werianty Setiawan, Direktur dan Sekretaris Perusahaan INDF mengatakan, pihaknya dan BRF masing-masing akan memegang 50% kepemilikan saham perusahaan patungan tersebut. BRF dan INDF juga akan mengucurkan investasi sekitar US$ 200 juta dalam jangka waktu tiga tahun. 
Keputusan INDF menggandeng BRF bukan tanpa alasan. Perusahaan ini adalah salah satu produsen produk protein hewani beku terbesar di dunia. Ekspor BRF juga sudah menjangkau 110 negara di 5 benua.
“Kerjasama ini memungkinkan Perseroan untuk dapat mempercepat pertumbuhan dengan memasuki kategori usaha makanan berbahan dasar protein hewani,” tulis Werianty dalam keterangan resmi, Jumat (19/12).
Kerjasama dengan BRF merupakan aksi korporasi kedua yang dilakukan Grup Salim dalam sebulan terakhir. Pada akhir November lalu, unit usaha Grup Salim yang berada di bawah INDF, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mengumumkan rencana akuisis pemilik produsen susu merek “Milkuat”.
Akuisisi 100% saham Milkuat dari PT Danone Dairy Indonesia itu dilakukan anak usaha ICBP, PT Indolaktio. Indolaktio telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat dengan Danone Dairy Investment Indonesia Pte. Ltd. dan Danone Asia Pte Ltd pada 21 November 2014 lalu.
ICBP mesti mengucurkan investasi senilai Rp 250 miliar untuk mengakuisisi “Milkuat”. Nilai ini termasuk merek dagang dan desain industri yang berhubungan dengan produk “Milkuat”.

Tags: ,
December 22, 2014

IMF cut Indonesia GDP growth to 5.1% for 2015

The International Monetary Fund (IMF) has cut down the projected growth rate of Indonesia’s economy next year from 5.8% to 5.1%, which is one of the most pessimistic projections between international finance institutions. Please note that before IMF growth downgrade, The World Bank already downgraded Indonesia growth to 5.2% from 5.6%. The IMF growth forecast is also lower than the BI’s and govt’s targets of 5.4-5.8% and 5.8%. IMF also predicted Indonesia’s current account deficit (CAD) to reach 2.75% next year from its GDP with an inflation level that is the same that Bank Indonesia pegged, at 4% +/- 1%. David Cowen, the Chief Division of Asia and Pacific Department IMF, stated that to keep the macroeconomic stability, Indonesia’s government must focus on structural reformations such as fiscal expansion, deeper financial markets, and infrastructure improvements

December 22, 2014

ACST: Public expose takeaways: On a standby mode

§ Takeover by Astra Group: Following United Tractors’ (UNTR) announcement of its plan to acquire a 50.1% stake in ACST, the company’s public expose on 16 December was well attended. ACST, a foundation and building-construction company, is being purchased by the Astra Group from its owners (40% via placement) and existing shareholders (10.1% via tender offer) with signing of the conditional sale-and-purchase agreement (CSPA) at the end of 2014 and completion of the transaction in early 2015. Additionally, ACST also expects its management team to remain intact post acquisition with some changes in the directors’ seats (3 directors from Astra replacing 2 existing directors).

§ Foundation business remaining strong: In 9M14, ACST’s foundations services revenue grew 84.1% y-y to IDR427bn, higher than construction which only rose 20.2% y-y (IDR430bn). On the cost side, ACST was also able to maintain its gross margin at 20% in 9M14 (9M13: 20.6%) as the foundation business offers higher margins (25-30%) than construction (8-12%). However, ACST acknowledges that foundation-services’ projects are relatively minor (only 15-20% of total construction value) compared to civil construction. Thus, ACST aims to raise its civil construction and marine revenue in tandem with Indonesia’s infrastructure boom.

§ Targeting 20-25% y-y organic 2015 revenue growth: Despite only booking IDR600bn in new contracts in 11M14 (incl. IDR480bn in foundation contracts), ACST remains confident that it could reach its 2014 new-contracts target of IDR1.5tn, helped by final tender processes on various building-construction contracts, which should be signed at the end of this year or early next year. In 2015, ACST aims for 20-25% y-y growth in revenues and new contracts, with IDR50bn in capex. ACST also plans to enter the demolition business on high demand in that segment.

§ Ready to take on infrastructure projects: Despite having only focused in building construction, ACST is confident in its ability to participate in government infrastructure projects, not just in foundation but also in civil-works construction. Past infrastructure projects include Suramadu Bridge Project, Tanjung Priok access road and Tanjung Jati power plant.

Outlook: Synergies from Astra takeover
Prior to signing the CSPA, the management admits of not being informed about Astra Group’s future plans for ACST, notwithstanding potential synergies which could materialize from property and infrastructure projects such as apartments, toll-roads and power plants. ACST also believes that it would benefit from Astra’s strong reputation to recruit new engineers and project managers for its growth needs. With that said, shares of ACST have outperformed the market by 53.5% ytd (exhibit 4). On valuation, ACST targets 2014 net profit to reach IDR121bn (+20.5% y-y), implying a PE of 14.0x (or 51% discount to its national peers – exhibit 8). Due to the pending agreement with Astra, ACST does not provide 2015 earnings guidance.

Tags: , ,
December 22, 2014

INDF: Good Food, Great Price

We upgrade INDF to BUY (from O-PF) and raise TP to Rp8,300/sh (from Rp8,000/sh) as we see value emerging. Discount to NAV has widened to 18% vs. historical average of 9%.

We continue to like ICBP and see it as the company’s growth driver. Noodle and dairy division will do well given ICBP’s pricing power and lower raw material prices (particularly skimmed milk). Beverage business will drive the growth in the longer term, but we only expect it to break even in 17CL.

A rise in CPO price will provide some catalyst, but expect flour to be on the weaker side. Revenue from CPO should provide some natural hedge against Rupiah deprecation. Due to a combination of revenue, cost, and balance sheet (debt+cash), we estimate that 1% rupiah depreciation translates to 1.8% npat decline.

Since INDF acquired Minzhong in 3Q13, profitability has stabilized with the company reporting sustained improving ebit margins. We also see 25% improvement in working capital days driven better receivable management. As of Sept 2014, Minzhong is in a net cash position with -39% net gearing level.

Our Rp8,300/sh price target is based on SOTP calculation, where ICBP constitutes 72% of our NAV, while flour, plantation and Minzhong contributes 14%, 6% and 5% respectively. Our TP implies 14x 16CL P/E, slightly below its historical average.

Tags: ,
December 22, 2014

Indonesia Coal Mining Sector – Another year of painful adjustment: Revising earnings on new coal price assumptions

● Coal imports from China have declined 9% YTD and are likely to be lower in 2015 as the country is on the path to a multi-year contraction in coastal coal demand.

● Consequently, our global commodity team has revised its coal price assumption this year to US$71/t from US$75/t and to US$64/t from US$75/t for 2015E (click here).

● Indonesia’s energy ministry (MEMR) is planning to raise coal output by 10% to 460mt, of which 110mt will be allocated for domestic market obligation and the remaining 350mt for the export market. The Ministry of Finance (MoF) also mentioned the possibility of a new 7.5% coal export duty.

● We downgrade our earnings estimate by 17-42% for 2015E for coal stocks under our coverage to adjust with the lower coal price compensated by cost savings from the decline in oil price. We prefer Adaro as it is one of the lowest large-scale coal producers in the country that is likely to be able to sustain the low

Tags: , , , , ,
December 22, 2014

The President reinforced his commitment to food self-sufficiency arguing Indonesia will be self-sufficient in rice under his term and a target for GDP growth to 8% by 2019 with 1% fiscal deficit to GDP

Jokowi discusses reform agenda. The President, Vice President and Head of National Planning Agency (Bappenas) held a briefing yesterday. The President reinforced his commitment to food self-sufficiency arguing Indonesia will be self-sufficient in rice under his term and a target for GDP growth to 8% by 2019 with 1% fiscal deficit to GDP. During the first 5 year term, the Jokowi Government plans to build 49 new dams, develop 24 seaports and establish new power plants with 35GW capacity. The development of toll roads is expected to increase to 1,000km over 5 years to 2019 vs 260km completed in the last 5 years. The Gov’t also wants tourism to contribute 8% of GDP up from 4.2% currently with 20m foreign tourist arrivals, up from 9m currently per annum.

December 22, 2014

TINS memutuskan mengurungkan niat membangun unit pemurnian dan peleburan (smelter) timah di Myanmar

Setelah ditunda setahun, PT Timah Tbk (TINS) memutuskan mengurungkan niat membangun unit pemurnian dan peleburan (smelter) timah di Myanmar. Setelah melakukan studi kelayakan dan penelaahan mendalam, emiten pelat merah ini tak kunjung mendapatkan lokasi ideal untuk membangun smelter di Myanmar.

December 22, 2014

TLKM: Telkomsel wants to install 15,000 BTS in 2015

Telkomsel wants to install 15,000 BTS in 2015. The BTS is a mixture of external and internal, for 2G, 3G and 4G. But the company added they may add more depending on the condition. It recently launched 4G services for the Jakarta and Bali.

December 22, 2014

TAXI’s analyst meeting key takeaways

We attended Express Transindo Utama (TAXI) analyst meeting along with site visit to its mega pool on Cengkareng area yesterday.
· Through the meeting, the financial director of TAXI mentioned that TAXI will increase its daily collection of fixed driver tariff fee for new contracts from IDR240, 000 to IDR275, 000 (+15%) per driver daily. With regards to new contracts, the company still has 1,500 unutilized licenses which will be used in 2015F. Moreover, it has been stated that government plans to issue 1,800 new licenses to be auctioned in 2015F of which 500 new licenses will be granted to TAXI as Taxi Company with high standard requirement (category A). We note that as of June 2014, the company already has 10,500 fleets with 90% of utilization rate.

· For 2015F, the company plans to allocate less capex than this year of IDR500bn. It will allocate around IDR200bn-IDR300bn as its capex, of which 20% will be used for company’s infrastructure to enhance its quality of service.

December 22, 2014

External FX Borrowings Not a Risk Despite Weakening Rupiah

-USD weakening is not a significant threat (net FX loan to equity only 20%) — Indonesia is much less vulnerable to external borrowing than is the general perception. Level of borrowing is low and FX borrowing (mostly denominated in USD) is also not high. About 54 companies under our coverage have a gross FX loan and net FX loan to equity of 30% and 20%, respectively. Only 11 companies have net FX loan to equity of above 50% but more than half of these companies hedge their USD debt (see fig 2). Among the high leverage stocks with FX debt are MSKY, EXCL, ASRI, VIVA, ISAT and GIAA. Companies with net FX cash positions are ITMG, HRUM, UNTR and SSIA. In general, we believe the Indonesian companies can sustain weakening of the US dollar.

-Poultry sector faces highest risk on USD debt and large mismatch; selected retailers face USD risk on the operational front — In terms of sector, poultry sector has the most FX exposure with large mismatch between revenue and US cost. All of the poultry sector revenues are in rupiah while ~85% of the costs are in USD. Selected retailers have a lot of FX exposure on their cost with no FX/USD revenue. However, they do not have any FX debt exposure.

-Winners and losers on weaker FX on the operational front (see fig. 1) — We look at the revenue and cost composition in this case to indicate the beneficiary of weakening of the rupiah. Winners are the plantation (AALI, DSNG, LSIP), metal mining (ADRO, ITMG, PTBA, HRUM), and textile (PBRX). While on the flipside, poultry, pay TV and retailers are the main losers. Banking, AKRA, PGAS and Astra are neutral on weakening of the rupiah as the cost and revenue are well-matched.

-Three sectors account for 54% of external borrowings (see fig. 4) — Private sector external debt as a percentage of GDP only reached 19% with manufacturing at 20%, banks at 19% and mining at 16%. Manufacturing borrowing is slightly below its share in GDP (24%). Mining has mostly USD revenues (but revenues are also in rupiah) while for banks, external funding (borrowings + deposits) are only 11% of total assets. Financial sector (multi-finance, leasing and property development) accounts for 9% of borrowing.

-Largest borrowers are JV companies (see fig. 5) — Risk of external debt not rolled over is mitigated by the fact that joint venture companies have 35% of the total debt, while foreign companies have another 10% (see fig. 5). Borrowings by state-owned entities are 18% while the remaining 38% (US$47bn) is with private domestic companies.

-And more than a quarter of lenders are parent or affiliated companies — Banks account for the provision of 51% of loans, and other financial companies another 13% (see figure 6). The largest portion of debt is domiciled in Singapore.

December 22, 2014

TAXI: Burdened

§ Taxi tariffs increased by 21-60%: On the back of the subsidized fuel price increase, the government and the Land Transportation Association (Organda) agreed on 4 December to increase taxi tariffs (lower and upper pricing levels) by 21-25% for flag-fall (fixed starting fee) and 28-33% per km of travel (exhibit 5) effective immediately. We expect the increase to result in lower utilization rates for the company’s regular (Express and Eagle) and premium taxis (Tiara). Moreover, TAXI’s main competitor, Blue Bird (BIRD), is switching to the lower tariff from the upper tariff level, which should intensify competition.

§ Margin pressure from high interest expense and depreciation: Due to its IDR1tn bond issuance in June 2014, TAXI pays yearly interest of IDR123bn (12.25%), which has resulted in margin pressure, with the 9M14 net margin decreasing to 17% from 19% in 9M13 (exhibit 9). In addition, TAXI’s fleet and taxi pool expansion led to an increase of 27% y-y in the 9M14 depreciation cost.

§ Reducing 2014-16F earnings on lower utilization rate: Despite TAXI’s aggressive expansion plan, we expect COGS growth to outstrip top-line growth, resulting in lower margins. Hence, as we expect increased depreciation and interest charges, we are reducing our 2014-15 net-profit forecasts by 8-33% (exhibit 6).

Outlook: Competition should intensify
We expect TAXI’s utilization rates to decline to 70% in 2015-16 from 71% in 2014, based on higher tariffs and more intense competition from BIRD. Based on our sensitivity analysis, we estimate a 1% decline in 2015 utilization rate to result in net-loss of 9% (exhibit 7). In addition, the higher fuel price should affect TAXI’s Eagle (500 units) as the company pays the fuel cost for Eagle (upper tariff), while Express taxi’s fuel cost, (lower tariff), is paid by the drivers. We also expect new competition from Astra International (ASII IJ-REDUCE-IDR7,200-TP:IDR6,600) that currently owns 300 taxis and targets its total units to reach 1,000 by 2015.

Recommendation: Downgrade to REDUCE and lower TP to IDR1,100
In line with our earnings reductions, we lower our 12-month target price to IDR1,100 (from IDR1,380), reflecting a 2015F PE of 18.5x, a 10% discount to regional peers. We expect TAXI’s EPS to decline by 8% y-y in 2015, compared to 20% y-y average peer growth. Given 9% downside potential to our new TP, expectations of intensified competition, and the stock’s 38% ytd underperformance (exhibit 4) – with a decline in 2015E EPS growth of 8%– we lower our rating on TAXI to REDUCE from Buy. Risks to our call include lower fuel prices and higher demand.

Tags: ,
December 22, 2014

Indo daily 22 Desember 2014

IHSG mengalami rebound tipis, +0.6% di akhir pekan kemarin. Bergerak menguatnya IHSG di akhir pekan kemarin, dipicu oleh sentimen mata uang Rupiah yang berangsur-angsur memulih, dan ditutup menguat ke level IDR12,497/USD vs. sehari sebelumnya di IDR12,563/USD. Menguatnya tipisnya IHSG ditopang oleh beberapa saham big caps, seperti BBCA, UNVR, TLKM, ICBP, demilkian beberapa saham small caps, seperti BUMI. ENRG yang mengalami rebound, setelah beberapa hari sebelumnya mendapat tekanan jual.Secara keseluruhan aktivitas perdagangan masih relatif ramai. Nilai perdagangan mencapai IDR5.4t vs. rata-rata perdagangan 6 bulan sebelumnyas di IDR4.4t.

Dari bursa regional pagi ini dibuka rata-rata positif, ditengah bursa Wall Street yang ditutup rata-rata positif tipis +0.32% pada jumat pekan kemarin. Ditutup positifnya bursa Wall Street, dipicu oleh saham sektor energi yang menguat rata-rata +3%, ditengah harga minyak WTI yang mengalami rebound, +4.45% menjadi USD56.52 per barrel. Penguatan Wall Street juga masih dipicu sentimen The Fed yang masih mempertahakan suku bunganya di level 0.25%. Demikian juga Bank Central Swisss yang mengenalkan negatif deposit rate.

Minyak mentah WTI berfluktuasi, dan mengalami rebound di akhir pekan kemarin, +4.45% ke level USD56.52 per barrel. Pagi ini minyak mentah dibuka berlanjut menguat tipis ke level USD57.43 per barrel. Menguatnya minyak mentah dipicu oleh Saudi Arabia yang yakin bahwa harga minyak akan mengalami rebound, seiring pertumbuhan ekonomi secara global, akan mendukung meningkatnya permintaan minyak.

Pelaku pasar juga fokus terhadap beberapa data makro ekonomi US yang akan diumumkan di pekan ini, seperti : 1) Existing home sales bulan November (akan diumumkan tanggal 22 Desember), yang diperkirakan cosensus economist melemah -1.1% menjadi 5.2juta unit. 2) Data GDP Anuallized di 3Q ( akan diumumkan tanggal 23 Desember), diperkirakan consensus economist tumbuh 4.3%. 3) Data Personal Consumption di 3Q (23 Desember), diperkirakan consensus tumbuh 2.5%. 4) Data Consumer Confidence index (Univ. Of Michigan Confidence) bulan Desember, (23 Desember), diperkirakan consensus flat di level 93.5. 5) Data New Home sales bulan Nov (tanggal 23 Des), diperkirakan consensus tumbuh 0.4% MoM menjadi 560k unit. 6) Data Personal Income dan Personal Spending bulan Nov (tanggal 23 Des), diperkirakan tumbuh masing-masing 0.5%.

December 22, 2014

LPS Rate tetap, karena bunga pasar tak berubah  

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akhirnya memutuskan tingkat bunga penjaminan simpanan (LPS Rate) dalam rupiah dan valuta asing (valas) di Bank Umum serta simpanan dalam rupiah di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) untuk periode 15 September 2014 – 14 Januari 2015 tak berubah. Hal ini disebabkan tingkat Suku Bunga Pasar (SBP) tak mengalami perubahan.
Menurut Samsu Adi Nugroho, Sekretaris LPS, saat ini tingkat LPS Rate untuk simpanan di Bank Umum dalam bentuk rupiah tetap sebesar 7,75%. Sementara untuk simpanan dalam bentuk valas di Bank Umum sebesar 1,50%. “Terakhir simpanan dalam bentuk rupiah di BPR juga tetap 10,25%,” kata Samsu dalam keterangan resmi, Jumat (19/12).
Keputusan LPS mempertahankan tingkat LPS Rate didasarkan atas pertimbangan bahwa komponen SBP untuk simpanan dalam rupiah di Bank Umum pada periode evaluasi tanggal 17 November sampai dengan 12 Desember 2014 tidak mengalami perubahan. Sedangkan untuk simpanan valas pada periode evaluasi yang sama mengalami penurunan tipis sebesar 2 bps.
Selain itu, kondisi likuiditas perbankan dinilai relatif stabil dengan tren pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang bergerak searah dengan target kebijakan Bank Indonesia (BI). “Namun demikian, perbankan tetap perlu memperhatikan kondisi likuiditas yang diperkirakan masih memiliki risiko mengetat,” ujar Samsu.
Sesuai ketentuan LPS, apabila suku bunga simpanan yang diperjanjikan antara bank dengan nasabah penyimpan melebihi tingkat bunga penjaminan simpanan, maka simpanan nasabah dimaksud menjadi tidak dijamin oleh LPS. Berkenaan dengan hal tersebut, bank diharuskan untuk memberitahukan kepada nasabah penyimpan mengenai tingkat bunga penjaminan simpanan yang berlaku dengan menempatkan informasi dimaksud pada tempat yang mudah diketahui oleh nasabah penyimpan.

December 22, 2014

MENKEU: Tax Amnesty Bisa Bawa US$250 Miliar Ke Indonesia  

Menteri Keuangan Bambang P.S Brodjonegoro mengungkapkan penerapan tax amnesty merupakan cara membawa uang Indonesia yang berada ke dalam negeri.
Menurutnya, tax amnesty merupakan jalan cepat untuk membawa uang investor Indonesia yang berada di luar negeri sekitar US$250 miliar.
Namun hal itu, katanya,  belum bisa dilakukan.
“Kalau mau tax amnesty, UU Pajak harus direvisi,” katanya, Jumat (19/12/2014).
Kalau pemerintah ingin menarik dana sedikit demi sedikit, katanya, yang perlu dilakukan dengan insentif tax, serta menciptakan produk-produk keuangan yang inovatif. Cara lain yang bisa menarik dana-dana Indonesia yang berada di luar negeri, Bambang menyebutkan dengan penghapusan pajak berganda.
Dalam catatan Bisnis, tax amnesty pada dasarnya adalah ‘rekonsiliasi ekonomi’ berupa penghapusan pidana pajak kepada wajib pajak (WP) yang memarkir dananya di luar negeri. Kebijakan ini positif bagi perekonomian secara keseluruhan, tetapi sangat tidak adil bagi WP yang patuh.
Sejumlah negara yang pernah menerapkan tax amnesty, dan dinilai berhasil aadalah India, Irlandia, dan Afrika Selatan. Indonesia pernah menerapkan tax amnesty pada 1984, tetapi gagal.
Dalam dosis yang lebih ringan, tax amnesty muncul kembali melalui kebijakan sunset policy pada 2008.

December 22, 2014

OIL:  Harga minyak melaju di penutupan akhir pekan  

Harga minyak dunia rebound pada akhir transaksi Jumat (19/12) kemarin. Data Reuters menunjukkan, harga kontrak minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berakhir di level US$ 56,52 per barel atau naik US$ 2,41. Demikian juga harga kontrak minyak Brent yang ditutup di atas level US$ 61 atau 4% lebih.
Dalam basis hitungan mingguan, harga minyak WTI dan Brent mencatatkan penurunan selama empat pekan berturut-turut. Selama Desember ini, harga minyak Brent sudah tergerus hampir 14%. Sedangkan harga minyak WTI turun hampir 16%. Kedua jenis minyak ini bahkan sudah melorot 50% dari posisi tertingginya pada Juni lalu.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh meredanya tekanan jual akibat aksi short covering oleh trader.
“Setidaknya saya sudah yakin, dengan minyak Brent di level US$ 60 dan WTI di atas US$ 55, kita sudah melihat level bottom harga minyak,” jelas Tariq Zahir, managing member Tyche Capital Advisors di Laurel Hollow, New York.

December 22, 2014


Dirut baru PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Alex J Sinaga mengatakan siap membawa perusahaan menjadi korporasi kelas dunia dengan mengedepankan tiga program utama yaitu penguatan kinerja bidang seluler, Indonesia Digital Network dan Internal Expansion.

Direksi berkomitmen menjadikan Telkom sebagai acuan industri telekomunikasi global. Industri telekomunikasi itu tanpa batas.

Menurut Alex, program pertama di bidang layanan seluler Telkom melalui anak usahanya PT Telkomsel berhasil mengembangkan bisnis digital melalui percepatan pembangunan infrastruktur.

Telkomsel juga sudah mengkomersialkan layanan seluler 4G LTE yang pertama di Indonesia. Ini menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara lain di dunia yang mengadopsi teknologi 4G.

Program kedua, pengembangan program Indonesia Digital Network (IDN), tidak hanya membangun infrastruktur telekomunikasi, tetapi juga siap menggelar infrastruktur jaringan serat optik menghubungkan belahan dunia.

Telkom turut serta dalam pembangunan sistem komunikasi kabel laut internasional yang menghubungkan Indonesia ke negara-negara belahan Barat hingga Eropa melalui Konsorsium South East Asia-Middle East-Western Europe 5 (SEA-ME-WE 5).

Selanjutnya konsorsium South East Asia-United States (SEA-US) yang menghubungkan Indonesia ke belahan Timur hingga Amerika.

Telkom juga sudah mengantongi rencana pembangunan jaringan kabel laut yang diberi nama “Indonesia Global Gateway” guna menghubungkan SEA-ME-WE 5 dengan SEA-US, proyek besar kabel laut berskala dunia ini melengkapi infrastruktur internasional yang telah dimiliki sebelumnya.

December 22, 2014

PTBA akan menaikkan produksi batu bara sebesar 20% hingga menjadi 23,76 juta ton pada tahun depan dari target tahun ini 19,8 juta ton

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan menaikkan produksi batu bara sebesar 20% hingga menjadi 23,76 juta ton pada tahun depan dari target tahun ini 19,8 juta ton. Rencana itu adalah tanggapan dari strategi perusahaan untuk meningkatkan kapasitas pelabuhannya dari 80.000 DWT menjadi 210.000 DWT.

December 22, 2014

SIDO: Sido Muncul perluas penjualan kawasan ASEAN  

PT Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) bakal memperkuat penetrasi pasar ekspor, khususnya untuk kawasan regional. Ini dilakukan sebagai salah satu langkah untuk menghadapi dibukanya keran Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Setidaknya, ada tiga negara yang menjadi fokus penjualan emiten jamu dengan kode saham SIDO di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini. “Kami fokus untuk menjajaki pasar Thailand, Vietnam, dan Myanmar,” imbuh Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat, seusai kegiatan Entrepreneur of The Year yang digelar Ernst & Young di Jakarta, Kamis malam .
Tak ketinggalan, Jepang juga bakal menjadi sasaran bisnis perseroan. Brand Tolak Angin masih menjadi motor utama ekspansi luar negerinya tersebut. Namun, bahasa merk produknya disesuaikan dengan bahasa setempat.
Misalnya, untuk pasar Thailand misalnya, merk Tolak Angin terletak di sebelah kiri, dan di sebelah kanannya ada tulisan Tolak Angin dalam bahasa Thailand.

December 22, 2014

ELSA: Elnusa Tingkatkan Belanja Modal 2015

Perusahaan penyedia jasa sektor energi, PT Elnusa Tbk (ELSA) pada tahun depan mengalokasikan belanja modal (Capital Expenditure/Capex) mencapai Rp600 miliar atau meningkat 39,53% dibandingkan belanja modal 2014 senilai Rp430 miliar.

Direktur Utama ELSA, Syamsurizal Munaf kepada pers di Gedung Bursa Efek di Jakarta, Jumat (19/12) mengatakan belanja modal ini akan digunakan untuk bisnis oil services, jasa seismic dan kepada entitas anak usaha.

Belanja modal perseroan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu senilai Rp600 miliar di 2015.

Adapun belanja modal tersebut sebesar 70% akan diperoleh dari pinjaman perbankan dan sisanya 30% dari kas internal.

Sementara itu di penghujung akhir 2014 ELSA malaah meraih kontrak baru di sektor migas senilai US$45 juta, disaat harga minyak mentah dunia turun tajam.
Selain kontrak itu, perseroan juga meraih kontrak senilai US$475 juta untuk 2015.

December 22, 2014

META: PENGELOLAAN TOL BSD: Nusantara Infrastructure (META) Gandeng 2 Perusahaan Jepang  

PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) menggandeng dua perusahaan asal Jepang dalam pengelolaan ruas tol Bintaro Serpong Damai (BSD) sepanjang 7,25 Kilometer.
General Manager Corporate Affairs Nusantara Infrastructure Deden Rochmawati mengatakan perseroan menggandeng Japan Expressway International Co. Ltd. (Jexway) dan West Nippon Expressway Co. Ltd. (W-Nexco) untuk pengembangan bisnis jalan tol.
“Hal ini menjadi strategi perusahaan untuk mengantisipasi proyek-proyek infrastruktur yang telah dicanangkan pemerintah Joko Widodo dengan menggandeng mitra kerja yang kompeten dan ahli di bidang pengembangan jalan tol,” ungkapnya dalam keterangan resmi, Minggu (21/12/2014).
Kedua perusahaan pelat merah asal Jepang itu akan memiliki 4,18% saham dalam ruas tol BSD. META akan memiliki 88,94% saham melalui anak usaha PT Margautama Nusantara (MUN) di ruas tol tersebut.
Ruas tol BSD merupakan penghubung antara Serpong dengan Pondok Aren sepanjang 7,25 Km. Tren volume lalu lintas harian meningkat 6,89% menjadi 84.665 kendaraan sepanjang tahun lalu.
Penandatanganan perjanjian tersebut dilakukan di kantor META pada Kamis pekan lalu. Perjanjian tersebut sebagai tindak lanjut dari penandatanganan sales and purchase of shares agreement antara kedua pihak yang telah dilakukan pada 18 November lalu di Tokyo Jepang.
Sebagai tahap awal, kedua perusahaan Jepang itu ikut mendukung perseroan dalam pembangunan proyek jalan tol di Makassar Sulawesi Selatan. Bila proyek tersebut berhasil sebagai pilot project, maka dapat menjadi percontohan pembangunan jalan tol di Indonesia.
Saat ini, META memiliki empat ruas jalan tol yang dikelola oleh anak usaha PT Margatama Nusantara, yakni Bintaro Serpong Damai (BSD) dan Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB) di Jakarta, jalan tol seksi empat (JTSE) dan Bosowa Marga Nusantara (BMN) di Makassar.

December 22, 2014

DEWA : DEWA akuisisi Cipta Multi Rp 21 miliar

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) membeli PT Cipta Multi Prima, perusahaan yang bergerak di bidang jasa, pembangunan, perbengkelan, perdagangan dan pengangkutan darat. Perusahaan tersebut nantinya akan memperkuat bisnis DEWA di bidang jasa kontraktor pertambangan.

Thekepat Gopal Sridhar, Direktur DEWA dalam keterbukaan informasi di BEI menjelaskan, nilai pembelian tersebut Rp 21 miliar. DEWA membeli saham Cipta Multi dari dua pemegang saham terdahulu yakni 50% milik Aldi Wijaya dan 49% milik Agung Iman. “Perjanjian tersebut telah ditandatangani pada 15 Desember 2014,” ujar dia, Kamis  (18/12).

Sebelumnya, DEWA mengatakan juga akan masuk ke bisnis pembangkit listrik dan minyak dan gas. Sebelumnya manajemen mengatakan tengah melakukan pembicaraan dengan salah satu vendor yang telah memenangkan independent power producer (IPP) di kawasan industri Medan Star, Sumatera Utara dan proyek di bisnis migas.

Pada proyek pembangkit listrik DEWA akan masuk dalam tahap persiapan. Seperti persiapan lahan, pembangunan infrastruktur tepi jalan dan earth movement.


December 22, 2014

Ciptadana Daily Technical View 22 December 2014

We expect JCI to trade between 5,100 (support) – 5,165 (resistance) level today

UNVR : Sell on strength at Rp 32,200-Rp 32,500
Comment: Testing resistance level
WIKA : Sell on strength at Rp 3,400-Rp 3,415
Comment: Testing resistance level
BBCA : Sell on strength at Rp 13,250-Rp 13,400
Comment: Testing resistance level
JSMR : Sell on strength at Rp 7,100-Rp 7,200
Comment: Testing resistance level
Market Movement
US indices closed higher on Friday last week where Dow increased by 0.15% to 17,804 and S&P 500 increased by 0.46% to 2,070. It was a best week in two months for US stocks as Fed assured market participants that the central bank will be patient on the timing of benchmark rate increase even as US economic growth shows signs of accelerating. The comment from the Fed also gave a boost to oil market. From the energy market, Brent oil jumped by 3.6% to US$61.4/barrel and WTI significantly increased by 4.4% to US$56.5/barrel.

JCI was up by 0.6% to 5,145 where BBCA, INTP and UNVR became the leading movers, consecutively.  Trading value was Rp5.4 tn and foreign investors sold Rp1.9 tn of stocks on a net basis. Window dressing possibility is still open for JCI as there are 5 trading days left before the market is closed for the New Year holiday. However, trading value will be relatively thin during the last two trading days (29 and 30th December) as many investors will have taken Christmas and New Year holidays. Some news today : banking industry’s slower loan growth in October, decreasing sales and overburden figures of UNTR in November, SGRO to get Rp650 bn of loan in 2015 and SKK Migas eyes for 61% domestic gas utilization. From our technical desk, JCI is expected to close lower with technical range of 5,100-5,165. 

December 22, 2014

FR CLSA Indo Morning Call -22 Dec 14-

FuelSubsidy,INDF,Macro,ELSA,META- Steady recovery towards the end of last week as Rupiah stabilises with the help of central bank intervention and we are pretty much back to where the JCI was before the whole rupiah volatility started. Not much in the way of leading news but with last Friday’s big market on close sell programs may see index bounce a bit today though expecting a lighter week with many investors starting to go for their year end holidays. Early flows even buy sell- ETFs: EIDO+0.56% (24.329% disc), IDX+0.78% (1.884% disc)

Futures: IDOA— FUEL SUBSIDY: Oil and Gas reform team proposing the scrap the current Ron 80 subsidised fuel and instead introduce a fix subsidy to the Ron 92 fuel-

INDF: form a 50-50 JV with Brazil’s BRF to explore the poultry and prepared food business in Indonesia. To spend $200m in the next 3 yrs-

MACRO: Central bank guiding for deficit for Nov trade data as oil&gas imports remains high while commodity exports saw a decline. No mention of how much

– ELSA: seeking strategic partners in expanding its business. Currently in talks with Russia on its electric submersible pump business and with China on the purchase of fuel pumps

– META: ties up with Japan’s West Nippon Expressway & Japan Expressway International to operate the 7.25km Serpong-Pondok Aren toll road. Both Japanese Co jointly acquire 4.18% stake in the toll road ——————————————————

December 22, 2014

If you would like to receive a broadcast stock message by email, enter your FULL NAME & Email Address below:

First Name
Last Name
Email *

You should receive a verification email from us.
If you haven't received one yet, please check your spam folder to make sure it didn't end up there by accident